teenage dream

love yourself and be extraordinary!

From Bali with Love #7 part 2

setelah menikmati karya luar biasa di pantai Pandawa, saya pun kembali ke hotel saya untuk membereskan barang-barang saya agar besok pagi tidak terlambat ke bandara. setelah itu saya berpikir untuk menghabiskan malam terakhir ke tempat yang pertama kali saya datangi bersama teman saya di Legian. dengan langkah kaki ceria saya pun memberanikan diri berjalan sendiri dimalam itu. 

saya larut dalam keramaian, tidak ingin kembali dalam rutinitas padat, karna di Bali everyday is holiday. saya yang awalnya tidak terlalu bersemangat solo travelling malah jadi orang yang tidak sabar merencanakan solo travelling selanjutnya. 

malam itu, saya berkenalan lagi dengan turis lainnya yang berasal dari Prancis. seperti percakapan dengan teman baru sebelumnya, dia juga menceritakan perjalanan petualangannya bersama teman-teman yang sangat asik untuk disimak. sayangnya, dia harus pulang lebih awal karna besok pagi dia akan berangkat kembali ke negara asalnya. setelah mengucapkan perpisahan dan bertukar kontak saya pun kembali sendiri menikmati malam terakhir itu.

tiba-tiba, saya didatangi oleh seorang lelaki yang wajahnya familiar. ya, dia adalah lelaki itu, yang saya bilang di cerita hari pertama saya, lelaki dengan senyum dan sifat ceria yang menarik perhatian saya waktu itu.

"Hello girl",dia datang menghampiri saya. "Hey, saya liat kamu disini 2 hari yang lalu", saya berkata. "oh ya? kenapa kamu tidak datang dan menyapa saya?",jawabnya. itulah awal percakapan kami yang berlanjut menjadi berjam-jam selanjutnya. Sedikit yang saya tau, sama seperti saya, dia seorang mahasiswa. Tinggal di suatu tempa (tidak perlu disebutkan :D) dan selalu menghabiskan liburan musim panas di Bali. percakapan seputar apa-yang-kamu-lakukan-disini berlanjut ke topik kehidupan keseharian kami dan semua hal yang bisa dibicarakan. untuk pertama kalinya, saya secocok ini dengan orang yang bisa dibilang orang asing. kami melanjutkan percakapan sambil menuju satu restoran disana berdua.

dia berkata,”menurutmu kita akan bertemu lagi?”

"saya tidak tau, mungkin saja tidak. kita tinggal ditempat yang sangat jauh dan bertemu secara kebetulan."

"apa menurutmu itu kebetulan? kita sudah bertemu 2 hari yang lalu tapi tidak ada salah satu dari kita yang memulai percakapan, sekarang kita dipertemukan lagi di tempat yang sama. kita bisa bertemu kapan pun itu, siapa yang tau?"

saya pun membalas dengan senyuman sambil merenungkan kata-katanya yang ada benarnya.

"kembalilah kesini tahun depan," lanjutnya, "saya selalu kesini tiap musim panas. tapi saya bisa kembali 3 atau 4 bulan lagi. saya tidak tau. saya akan kabari kalo saya kesini lagi, semoga kita bisa ketemu lagi"

waktu saya sudah habis dan saya dengan enggan harus kembali ke kota saya. dia mengatakan keinginannya agar saya tetap tinggal disini beberapa hari lagi, tapi keadaan memaksa untuk kembali ke kehidupan yang sebenarnya.

kami pun berjanji akan bertemu kembali. minggu depan, 3 bulan depan, tahun depan, kami pun tidak tau. cerita selanjutnya biar jadi cerita kami. Terima kasih Bali untuk pertemuan ini. 

From Bali with Love #7 part 1

22 Agustus 2014

bisa dibilang ini hari terakhir saya disini, walaupun penerbangan saya besok pagi tapi tetap saja besok hanya bisa bangun pagi dan langsung menuju ke bandara. saya pun mengunjungi dua pantai yang membuat saya penasaran, Bloo Lagoon dan Pandawa. Berhubung di Bloo Lagoon letaknya jauh dan bukan tempat untuk melihat sunset, maka saya memulai hari dengan pergi kesana.

Sebenarnya kurang puas melihat pemandangan pantainya karna pohon-pohon disana sedang gugur, sehingga lebih banyak warna hitam ranting daripada hijau daun. Tapi untuk keseluruhan, pantai ini cantik dengan jumlah turis yang lebih sedikit, air biru pekat, dan bibir pantai yang pendek. Namanya juga lagoon atau dalam bahasa Indonesia, laguna. Setelah puas bernarsis ria dengan kamera dan tripod saya, saya pun tidur di atas pasir pantai yang akan saya rindukan sesampai di Bandung nanti karna dikota saya tidak ada pantai. Itulah salah satu kekurangan Bandung bagi anak pantai seperti saya. Saya selalu lari ke pantai saat penat, atau butuh waktu merenung. Dan saya tidak mendapatkannya disana.

Hari semakin siang, jika tidak bergegas saya tidak akan melihat sunset indah di pantai Pandawa. Tidak sulit mendapatkan pantai itu, karna ada petunjuk di kanan kiri jalan. Itu salah satu yang saya suka dari Bali, semua tempat wisata dapat ditemukan dengan mudah karna adanya penunjuk jalan. Selain itu, penduduknya pun ramah jika kita tersesat. 

Dijalan menuju Pandawa, satu hal yang langsung keluar dari mulut saya “Surga!”. Dikelilingi bukit-bukit kapur tinggi, saya sudah bisa membayangkan bagaimana indahnya pantai itu. Dan benar saja, sejauh mata memandang hanya ada pasir putih dan air laut yang selalu mempesona saya. Saya memutuskan untuk tidak membawa kamera saya untuk lebih menikmati waktu daripada berusaha mendapatkan hasil foto terbaik. Disebelah kanan pantai jelas terlihat sunset indah. Matahari mulai tenggelam sedalam pikiran saya yang tenggelam dalam kekaguman akan karya Tuhan yang luar biasa ini. 

Kembali saya berjanji untuk kembali lagi di pulau surga ini secepatnya, karna disinilah saya mendapat kedamaian dan hati yang tidak hentinya bersyukur. 

From Bali with Love #6

21 Agustus 2014,

berhubung teman saya, Abraham, masih disini sampai sore, saya berencana pergi bertualang bersama dengan dia. tujuan pertama kami adalah Sanur Village Festival, festival tahunan yang dimeriahkan oleh pameran-pameran kerajinan tangan, maupun penampilan dari band-band lokal yang tidak kalah meriah dengan band luar. 

Karna kuta-sanur lumayan memakan waktu di perjalanan, akhirnya kami tidak sempat berwisata kuliner mencoba babi guling yang tidak boleh dilewatkan jika sudah ke Bali. Saya pun mengantarnya ke bandara untuk terbang kembali ke Bandung, melanjutkan rutinitasnya. Berkali-kali dia memaparkan keinginannya untuk tetap tinggal disini dan menikmati surga dunia yang disediakan pulau ini.

Setelah mengantarnya, saya mengejar sunset di pantai Kuta yang terkenal indah. Tersimpan banyak kenangan di pantai ini, pernah ada canda tawa dan kasih sayang yang saya rasakan bersama keluarga -maupun teman-teman saya diliburan sebelumnya. Disinilah saya, di atas pasir putih yang lembut, duduk diam sambil tidak lupa mengambil foto terbaik. 

Tiba-tiba ada suara dari sebelah kiri saya “hey girl, can I see your picture?”

"come here and see", jawab saya.

akhirnya dialog singkat itu berlanjut menjadi satu menit, sepuluh menit dan tanpa disadari sudah berlangsung selama 2 jam. Hari sudah gelap, dan kami terlarut dalam pembicaraan seru itu. Saya pun tau dia adalah turis dari Italia, sudah memulai perjalanannya dari Danau Toba (yang sangat membuat saya sirik karna saya sendiri yang adalah orang Batak belum pernah menginjak danau yang konon katanya memiliki pemandangan sangat indah, terbukti dari foto-foto teman saya), kemudian dilanjutkan ke salah satu daerah terpencil di Sumatera yang saya sendiri lupa namanya, dan berakhir di Bali. Besok, katanya, dia akan melanjutkan perjalanan ke Ubud dan mencoba Yoga disana. Saya pun menceritakan dan menunjukkan foto-foto liburan saya di beberapa tempat indah di Indonesia. Yang membuat pembicaraan ini tidak berujung adalah dia dan saya adalah backpacker yang mempunyai passion yang sama. 

Satu pembicaraan yang sampai saat ini terngiang di kepala saya dan membuat saya bersyukur akan apa yang saya punya

M : I was sitting there after surfing with my friends, and saw you here alone, some of them offer you tattoo and ice cream and you answer them with that mmm let me think, universal smile

Me : oh what is that?

M : universal smile, smile that makes everyone around you wanna smile too. I called it universal smile

Me : maybe cause it’s from my heart

karna hari sudah malam dan gelap, kami pun berjalan bersama kembali ke hotel masing-masing dan berjanji akan bertemu beberapa jam lagi di salah satu restoran dekat hotel kami. saya pun senang mendapat teman baru seperti itu. tapi entah kenapa ada yang mengganjal dalam diri saya sehingga saya memutuskan untuk jalan berkeliling kuta-legian tanpa menemuinya di restoran itu. everything happens for a reason,right?

to be continued……..

From Bali with Love #5

Sekitar setahun yang lalu saya pernah buat blog tentang perjalanan saya selama liburan di pulau eksotis ini selama satu setengah bulan. Sebenarnya lebih ke arah perasaan saya saat di tempat-tempat indah yang ada di Bali. Seperti yang selalu saya katakan, saya selalu meninggalkan setengah jiwa saya di pulau penuh cinta ini dan saya akan selalu kembali setiap kali ada kesempatan. dan sekarang disinilah saya, di atas JT-960 siap memulai menggoreskan tinta di lembar baru dalam buku perjalanan saya.

20 Agustus 2014

Pesawat yang membawa saya tiba pada waktunya, saya tidak sabar memulai solo travelling pertama saya. Sebenarnya perjalanan kali ini jauh diluar ekspektasi saya. Saya merencanakan bersama sahabat lama saya kemudian berganti bersama pasangan saya yang tanpa diduga membatalkan penerbangannya 2 hari sebelum perjalanan ini karna hubungan kami berakhir dengan tidak baik. Saya bukan tipe orang yang bergantung dengan orang lain, jadi berlibur sendiri sebenarnya punya keuntungan tersendiri bagi saya karna bisa mengatur apa saja sesuka hati saya. Apalagi hubungan yang sudah lama saya bangun dengan susah payah baru saja berakhir dan sebagaimana manusia normal lainnya saya merasa sedih dan kecewa. Jadi solo travelling ini adalah kesempatan yang baik untuk memulihkan luka hati saya. Jangan pikir saya sesedih itu, karna sebenarnya saya lebih bebas dan tenang setelah memutuskan untuk berpisah :D

Begitu sampai saya buru-buru check in di hotel karna tidak mau membuang waktu saya yang hanya sedikit disini. Sebelumnya saya sudah membuat janji temu dengan teman lama saya yang kebetulan berlibur kesini tapi akan pulang besok sore. Kami pun makan malam bersama di daerah Jimbaran. Berkali-kali ke Bali tapi saya belum pernah “candle light diner” disini dan ternyata tempatnya sangat romantis. Andai saja yang bersama saya bukan teman saya hahaha

Setelah makan dengan kalap, kami melanjutkan perjalanan ke suatu tempat di daerah Legian. Saat itu, ada seorang lelaki yang menarik perhatian saya. Dia adalah lelaki dengan senyum manis dan sifat ceria. Tapi cukup sampai disitu saja karna dia pun sibuk dengan teman-temannya. Malam mulai larut dan secara tidak sengaja saya berkenalan dengan dua orang turis asal Belanda yang sangat ramah. Kami pun akhirnya menghabiskan malam bersama, menceritakan pengalaman liburan mereka dan banyak hal lainnya. Saya mulai berpikir, seandainya mantan saya ikut, apakah saya bisa bertemu orang-orang baru seperti ini? saya rasa liburan saya akan sangat hambar dan cuma dipenuhi dengan dia, dia dan dia.

Baru beberapa jam disini saya mulai menemukan kebahagiaan dalam perpisahan. Dalam hati saya berdoa agar besok lebih baik dan saya dipertemukan dengan orang-orang baru yang membuka pikiran saya agar tidak larut dalam kesedihan yang tidak perlu dirasakan. 

to be continued……..

blue water on bloo lagoon,karangasem, Bali

blue water on bloo lagoon,karangasem, Bali

Sanur Village Festival
yearly festival celebrated at Bali

Sanur Village Festival

yearly festival celebrated at Bali

Sebuah awal

9 Agustus 2014
Siang itu saya duduk tepat di depan piano, dengan jari menari memainkan irama yang mendamaikan. Tidak butuh waktu lama yang ditunggu pun tiba, semua berdiri dari tempat duduknya menyambut mereka. Disitulah mereka, tepat di pintu gereja dengan wajah berseri dimabuk cinta.
Pasangan pengantin itu pun berjalan ke depan altar dan menyalakan lilin simbol harapan agar di masa depan rumah tangga yang mereka bangun akan bersinar terang. Samar-samar terlihat tangan yang bergetar, bagai kehidupan baru yang akan penuh goncangan tapi pada akhirnya akan tetap bersinar jika kedua pihak memegang janji mereka untuk tetap berjalan bersama dalam keadaan apapun.
Rangkaian ibadah pun berjalan, janji setia diucapkan. Kalimat “Ya, saya berjanji” menjadi awal kehidupan bagi keluarga baru ini. Mereka tau, cinta tidak selalu indah. Tapi mereka tau, mereka bisa menjalaninya bersama.
Hari ini, ada sebuah awal yang baru bagi dua anak manusia yang dipertemukan Tuhan. Di belahan dunia lain, mungkin ada sebuah awal yang baru bagi seorang anak yang baru dilahirkan. Sebuah awal yang baru bagi mereka yang baru memulai satu hubungan. Dan sebuah awal baru yang lainnya.
Semua awal yang baru itu dipenuhi sukacita. Tapi tidak ada perjalanan yang tidak pernah melewati masa gelap. Pada akhirnya, mereka yang setia lah yang akan tetap bertahan sesulit apapun dunia membawa mereka jatuh.
Satu hari nanti, entah kapan dan bersama siapa. Saya tdk tau. Tapi saat waktunya tiba, saya akan seperti dua sejoli itu. Berjalan bersama dengan cinta yang berapi-api, dan mengakhirinya dengan cinta yang sama. Kapan dan siapa, saya pun tidak tau.
#throwbacksaturday

Exploring Tambing Lake with my bestfriends. Part of Lore Lindu National Park where you can find many species of birds right here, also great place for bird watching. Just pack and let’s get lost!

Tidak selamanya #throwbacksaturday

Saya tiba tiba teringat sekitar setahun yang lalu, saya lupa tepatnya tanggal berapa. Waktu itu saya akan kembali merantau ke tempat kuliah saya. Saya dan seorang sahabat saya memutuskan untuk menghabiskan malam terakhir bersama.
Banyak cerita, banyak tawa, hanya kami berdua. Tanpa terasa malam datang dan dia harus kembali ke rumahnya. Seperti biasa, perpisahan kami selalu disertai pelukan erat seakan tidak ingin terpisah tapi harus berpisah.
sambil memeluk saya dia berbisik, yang masih saya ingat sampai sekarang, “Saya senang kita sahabatan. Kalo kita pacaran mungkin saja saya kehilangan kau. Tapi saya tidak mau kehilangan kau, saya lebih sayang dari itu”
Saya membalasnya dengan tersenyum dan bersyukur saya punya sahabat seperti ini. Ya, saya hanya ingin tersenyum dan menikmati betapa indahnya kasih sayang antara sahabat ini.
Disitulah saya mengerti, ketika anak laki laki dan perempuan dipertemukan, tidak selamanya mereka harus saling jatuh cinta. Tidak selamanya mereka bersama karna salah satu dari mereka punya rasa yang lebih.
Cinta bisa datang dan pergi seenaknya, tapi sahabat akan selalu ada. Tidak harus bersama terus menerus, malah terkadang harus terpisah pulau, tapi sahabat akan selalu saling mengingat dan kembali bersama di waktu yang tepat.